![]() |
| Oleh : Denni Hand |
Di tengah derasnya arus informasi, publik kembali dihadapkan pada pertanyaan mendasar, "Masihkah kebenaran menjadi kompas utama jurnalisme..?". Pertanyaan itu mencuat ketika sejumlah pemberitaan media arus utama dinilai mulai menyimpang dari prinsip keberimbangan, akurasi, dan etika profesi.
Alih-alih menghadirkan fakta secara utuh, sebagian oknum jurnalis justru dituding memainkan narasi. Potongan informasi disajikan tanpa konteks, judul dibuat sensasional, dan sudut pandang dipersempit demi kepentingan tertentu.
Dalam kondisi seperti ini, kebenaran seakan “ditikam” secara berlahan. Bukan dengan kebohongan telanjang, akan tetapi dengan manipulasi yang sangat halus dan sulit dikenali.
Atau diam, dengan modus pura-pura tidak mendengar, tidak merasakan, tidak melihat, dan tidak mengetahui dilema/keresahan yang tengah terjadi dimasyarakat.
Praktik semacam ini sangat berbahaya. Karena media memiliki kekuatan membentuk opini publik, memengaruhi persepsi, bahkan menentukan arah perdebatan sosial dan politik ditengah masyarakat.
Dan ketika kekuatan ini secara terus-menerus disalahgunakan oleh oknum insan pers yang licik, dan tidak ada koreksi dari organisasi pers sebagai wadahnya.., maka lambat laun kepercayaan masyarakat terhadap pers secara keseluruhan akan ikut tergerus.
Karena publik akan berpendapat.., Jurnalisme yang seharusnya menjadi pilar demokrasi, saat ini telah berubah menjadi sebuah alat legitimasi kepentingan.
Tekanan ekonomi, kepentingan pemilik modal, hingga kedekatan dengan pusat kekuasaan sering kali menjadi faktor pendorong lahirnya jurnalisme yang tidak independen. Dalam situasi tersebut, idealisme wartawan diuji, dan tidak semua bisa lolos dari ujian tersebut, kecuali mereka yang berhati waras.
Namun demikian, penting untuk digarisbawahi, bahwa praktik licik ini tidak mewakili seluruh insan pers. Masih banyak jurnalis yang bekerja dengan integritas, bahkan mempertaruhkan kenyamanan dirinya demi sebuah kebenaran dan fakta, serta setia pada kode etik jurnalistik. Mereka inilah yang menjadi benteng, dan menjaga agar harapan publik terhadap media tidak sepenuhnya padam.
Masyarakat pun dituntut lebih kritis. Membaca lebih dari satu sumber, memeriksa fakta, dan tidak menelan mentah-mentah setiap narasi yang disajikan menjadi langkah penting di era banjir informasi. Ketika media tergelincir, publik yang cerdas adalah benteng terakhir kebenaran.
Dalam perjalanannya, kebenaran mungkin bisa dilukai, ditikam, bahkan ditutupi, namun yakinlah.. itu hanya untuk sementara waktu. Karena banyak sejarah membuktikan, kebenaran yang sejati dan hakiki akan selalu menemukan jalannya sendiri, untuk bangkit dan memperlihatkan wujudnya.
Dan semoga, peringatan HPN 2026 ini bukan sekadar seremonial tahunan, akan tetapi dapat menjadi ajang introspeksi diri (refleksi) atas kinerja, profesionalisme, dan integritas dalam menjalankan tupoksi sebagai insan jurnalis.
Selamat Hari Pers Nasional, "semoga pers Indonesia senantiasa sehat, profesional, dan berintegritas".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar