Penanganan Bencana Bukan Sekadar Respons Darurat, Kasatker OP-SDA BWSS V Padang Tanggapi Informasi Masyarakat - Go Asianews

Breaking


Jumat, 13 Februari 2026

Penanganan Bencana Bukan Sekadar Respons Darurat, Kasatker OP-SDA BWSS V Padang Tanggapi Informasi Masyarakat



GoAsianews.com
Padang (SUMBAR) -
Penanganan bencana harus berbasis mitigasi bencana, dan bukan sekadar respons darurat. Hal ini sangat penting untuk meminimalkan risiko, korban jiwa, dan kerugian material dikemudian hari.

Dengan pendekatan berbasis mitigasi, penanganan bencana menjadi lebih terarah, efektif, dan partisipatif.

Dan sisi rehab rekon menjadi salahsatu perhatian khusus, untuk mengurangi resiko jangka panjang, sehingga dampak bencana di masa depan dapat dikurangi secara signifikan.

Proyek penanganan darurat pasca bencana banjir bandang 2025 lalu, berupa pengendalian aliran sungai dan perkuatan tebing sungai di Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Lubuk Alung. Kabupaten Padang Pariaman, yang dikerjakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT.Nindya Karya menuai sorotan publik. 

Hal ini disebabkan karena metoda kerja yang dilakukan oleh PT.Nindya Karya pada item pemasangan bronjong penanganan tebing sungai.

Dari informasi warga, batu-batu yang dikeruk dari sungai menggunakan alat excavator. Dan batu-batu tersebut langsung dimasukkan kedalam anyaman bronjong tampa melakukan sortiran besar/kecil/jenis batuan. Sehingga kerikil pun masuk dalam anyaman.

Metoda ini tentu tidak layak dipertahankan, karena akan berdampak besar pada fungsional bronjong itu sendiri.

Terkait hal tersebut, Kasatker OP-SDA BWSS V Padang, Sastriawan yang dikonfirmasi GoAsianews menjelaskan bahwa hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh PPK.

"Terimakasih informasinya," tulis Kasatker OP-SDA BWSS V Padang, Sastriawan, Jum'at (13/02/2026).

"Informasi tersebut barusan ditindak lanjuti oleh PPK dilapangan. Penanganan bencana harus berbasis mitigasi bencana, dan bukan sekadar respons darurat," tambah Sastriawan.

Terkait informasi masyarakat ini, GoAsianews masih berupaya menghubungi pihak yang berkompeten dari PT.Nindya Karya pada titik wilayah kegiatan pasca bencana tersebut, untuk memperoleh keterangan resmi dari pihak perusahaan.

Sebagamana diketahui secara teknis, penggunaan batu yang tidak sesuai standar (terlalu kecil, tidak padat, atau rapuh) pada bronjong dapat menyebabkan kegagalan struktur yang fatal. Karena bronjong berfungsi menahan tanah dan erosi berdasarkan berat batu dan fleksibilitas kawat. 

Berikut adalah bahaya utama jika batu bronjong tidak sesuai standar dan ukuran:

 - Batu Keluar dari Kawat (Bocor),
Jika ukuran batu lebih kecil dari lubang jaring kawat (mesh), batu akan mudah keluar, menyebabkan kawat kendor dan struktur kehilangan berat secara drastis.

 - Struktur Tidak Stabil dan Ambruk,
Batu yang terlalu kecil tidak dapat mengunci satu sama lain dengan baik. Hal ini mengurangi berat timbunan, sehingga bronjong gagal berfungsi sebagai dinding penahan tanah, terutama di tebing atau tepi sungai.

 - Gerusan dan Erosi Lanjutan,
Rongga yang terlalu besar (karena batu tidak disusun padat) atau material yang terlalu halus membuat air mudah menggerus material tanah di belakang bronjong, menyebabkan penurunan atau penurunan permukaan tanah (piping).

 - Kawat Mudah Putus/Rusak,
Batu yang tidak standar (contoh: tajam dan kecil) dapat merusak lapisan galvanis kawat, mempercepat korosi, dan menyebabkan bronjong sobek.

 - Umur Pakai Lebih Pendek,
Struktur bronjong yang diisi batu tidak standar tidak akan bertahan lama, seringkali mengalami kerusakan kecil yang semakin lama semakin membesar, sehingga memerlukan perbaikan permanen dalam waktu cepat.

 - Penyumbatan Aliran Sungai,
Material batu kecil yang keluar seringkali mengendap di dasar sungai, mengganggu aliran, dan bisa memicu banjir. 

(deni) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Selamat datang di www.goasianews.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred:
-->